Bank Neo Commerce Kehilangan Dirut, Eri Budiono Hengkang di Tengah Tekanan Sektor Digital

"Direktur Utama Bank Neo Commerce Eri Budiono mengundurkan diri per 2 Oktober 2026. Keputusan ini memicu spekulasi tentang arah bank digital di tengah tekanan likuiditas dan persaingan yang semakin ketat."
Bank Neo Commerce Kehilangan Dirut, Eri Budiono Hengkang di Tengah Tekanan Sektor Digital
Jakarta — PT Bank Neo Commerce (BNC) resmi mengumumkan pengunduran diri Direktur Utama Eri Budiono per 2 Oktober 2026. Kabar ini mencuat di tengah dinamika industri perbankan digital yang tengah menghadapi ujian likuiditas dan profitabilitas. Keputusan mendadak ini memicu pertanyaan besar: apa yang sebenarnya terjadi di balik layar BNC, dan bagaimana dampaknya bagi nasabah serta investor ritel?
Pengunduran diri Eri Budiono disampaikan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Manajemen BNC belum merinci alasan spesifik di balik langkah tersebut, namun memastikan proses transisi kepemimpinan akan berjalan sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Eri dikenal sebagai sosok yang membawa BNC bertransformasi dari bank konvensional menjadi bank digital dengan basis nasabah milik generasi muda. Di bawah kepemimpinannya, BNC sempat mencatat pertumbuhan signifikan dalam jumlah pengguna aplikasi, meski harus mengorbankan profitabilitas jangka pendek.
Sinyal Tekanan di Industri Bank Digital
Kepergian Eri Budiono bukan sekadar rotasi internal biasa. Ini bisa dibaca sebagai sinyal bahwa bank digital sedang memasuki fase konsolidasi yang lebih keras. Beberapa tahun terakhir, bank-bank digital di Indonesia berlomba menggelontorkan dana promosi besar-besaran untuk mengerek jumlah nasabah. Strategi bakar uang itu kini mulai menuai konsekuensi: banyak yang masih belum membukukan laba, sementara biaya dana (cost of fund) terus meningkat seiring ketatnya likuiditas global.
Menariknya, tekanan ini tidak terjadi di ruang hampa. Kondisi makroekonomi Indonesia sedang diuji oleh pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp17.895 per dolar AS, seperti yang sempat kami ulas dalam Rupiah Tembus Rp17.895 per Dolar AS, Tekanan Eksternal Mulai Terasa di Kantong Konsumen. Melemahnya nilai tukar membuat biaya teknologi dan pendanaan menjadi lebih mahal, terutama bagi bank digital yang bergantung pada infrastruktur cloud dan investor asing.
Dampak bagi Nasabah dan Investor Ritel
Bagi nasabah, pergantian direktur utama biasanya tidak langsung memengaruhi layanan harian. Namun, ada baiknya tetap mencermati arah kebijakan baru, terutama terkait suku bunga simpanan dan program loyalitas. Di sisi lain, investor ritel yang memegang saham BBYB (kode saham BNC) perlu waspada terhadap potensi gejolak harga jangka pendek. Pasar sering kali bereaksi cepat terhadap berita pergantian petinggi, apalagi di sektor yang sedang dalam sorotan.
Kita tahu, BEI baru saja membuka era short selling dan IDSS yang bisa memperbesar volatilitas. Seperti yang dibahas dalam BEI Mulai Jual Short Selling, IDSS Resmi Berjalan dengan Dua Anggota Bursa, likuiditas pasar memang meningkat, tapi risikonya juga berlipat, terutama untuk saham-saham yang fundamentalnya belum solid. BNC, sebagai salah satu emiten bank digital, masuk dalam kategori yang perlu dicermati.
Apa yang Harus Dicermati ke Depan?
Pertama, siapa pengganti Eri Budiono. Sosok baru nanti harus mampu menyeimbangkan antara pertumbuhan nasabah dan efisiensi biaya. Kedua, strategi pendanaan. Bank digital tidak bisa terus bergantung pada dana mahal dari investor besar. Mereka perlu mendorong dana murah dari nasabah ritel, yang sayangnya masih enggan menaruh simpanan besar di bank digital karena faktor keamanan dan kepercayaan.
Ketiga, regulasi. OJK semakin agresif mengawasi tata kelola bank digital, terutama setelah beberapa kasus gagal bayar dan skandal investasi. Ini sebenarnya angin segar bagi industri, tapi juga menuntut kepatuhan yang lebih ketat. Bagi pelaku startup dan UMKM yang menggantungkan pembiayaan pada bank digital, perubahan kepemimpinan di BNC bisa memengaruhi akses kredit. Kita tahu, kredit UMKM masih tumbuh timpang dibanding kredit korporasi, seperti yang tergambar dalam Kredit Bank Melaju 13,65 Persen, tapi UMKM Hanya Tumbuh 2,38 Persen. Jika bank digital semakin konservatif, ruang pembiayaan bagi usaha kecil bisa makin sempit.
Peta Persaingan yang Semakin Ketat
Bank Neo Commerce bukan satu-satunya pemain di pasar bank digital. Ada sejumlah nama besar lain yang juga tengah berjuang mencari model bisnis berkelanjutan. Persaingan bukan lagi soal siapa yang paling banyak memberi bonus, tapi siapa yang paling efisien dan dipercaya. Dalam konteks ini, pengunduran diri Eri Budiono bisa menjadi momen refleksi bagi seluruh industri: sudah saatnya bank digital berhenti sekadar mengejar jumlah pengguna, dan mulai fokus pada kualitas layanan serta kesehatan finansial.
Bagi investor, momen seperti ini sering kali menjadi ujian kesabaran. Jangan panik, tapi juga jangan abai. Pantau terus keterbukaan informasi BNC dan respons OJK. Jika transisi berjalan mulus dan pengganti Eri punya rekam jejak kuat, bukan tidak mungkin pasar justru menyambut positif. Sebaliknya, jika ada indikasi masalah internal yang lebih dalam, bersiaplah untuk skenario terburuk.
Pada akhirnya, dunia perbankan digital memang penuh kejutan. Hari ini kita bicara soal pengunduran diri, besok bisa jadi soal akuisisi atau merger. Yang jelas, industri ini tidak pernah sepi dari cerita. Dan bagi kita yang mengikuti perkembangannya, selalu ada pelajaran berharga di setiap babaknya.