Kembali ke Semua Artikel
Tech & Insights

Ekonom Apollo Sebut AI Nol Hasil Finansial bagi Perusahaan Non-Tech, Janji Produktivitas Dipertanyakan

Rizal Firdaus
Ekonom Apollo Sebut AI Nol Hasil Finansial bagi Perusahaan Non-Tech, Janji Produktivitas Dipertanyakan

"Ekonom Apollo Global Management, Torsten Slok, menyatakan AI belum memberikan hasil finansial bagi perusahaan non-teknologi. Investasi besar belum sejalan dengan produktivitas riil, menjadi peringatan bagi adopsi AI di Indonesia."

Investasi besar-besaran pada kecerdasan buatan (AI) ternyata belum membuahkan hasil finansial yang berarti bagi mayoritas perusahaan di Amerika Serikat. Ekonom dari Apollo Global Management, Torsten Slok, menyatakan bahwa di luar sektor teknologi, AI memberikan "nol hasil finansial" bagi korporasi. Pernyataan ini muncul di tengah gelombang hype dan belanja modal raksasa yang terus mengalir ke infrastruktur AI.

"Meskipun ada investasi besar dan hype yang meluas seputar kecerdasan buatan, teknologi ini telah memberikan nol hasil finansial bagi korporasi Amerika di luar bidang teknologi," tulis Slok dalam catatannya, seperti dikutip TechCrunch. Pernyataan tersebut langsung menjadi pukulan telak bagi narasi bahwa AI akan segera mentransformasi seluruh lini bisnis.

Antara Janji Produktivitas dan Realitas Neraca Keuangan

Selama dua tahun terakhir, gelombang adopsi AI generatif memang terasa masif. Perusahaan-perusahaan berlomba mengintegrasikan model bahasa besar (LLM) ke dalam layanan pelanggan, pembuatan konten, hingga analisis data. Namun, menurut Slok, dampaknya terhadap margin keuntungan dan efisiensi biaya masih sangat minim. Banyak perusahaan yang menggelontorkan dana untuk lisensi, pelatihan, dan infrastruktur cloud, tetapi belum mampu mengonversinya menjadi pendapatan baru atau penghematan yang signifikan.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. AI generatif masih menyisakan tantangan besar dalam hal akurasi, integrasi dengan sistem warisan (legacy systems), dan kesiapan sumber daya manusia. Alih-alih langsung memangkas biaya operasional, implementasi AI sering kali justru menambah kompleksitas dan biaya tersembunyi, terutama untuk pemeliharaan model dan tata kelola data.

Implikasi bagi Adopsi AI di Indonesia

Temuan ini patut menjadi cermin bagi pelaku bisnis di Indonesia. Gelombang digitalisasi memang tak terbendung, tetapi investasi teknologi tanpa perencanaan yang matang berisiko menjadi beban. Startup dan perusahaan lokal perlu lebih jeli dalam memilih use case AI yang benar-benar menyentuh titik nyeri operasional, bukan sekadar mengikuti tren. Misalnya, otomasi alur kerja di sektor logistik atau layanan pelanggan berbasis bahasa Indonesia mungkin lebih memberi hasil cepat dibanding proyek AI yang terlalu ambisius.

Di sisi lain, pernyataan Slok juga menyiratkan bahwa keunggulan kompetitif dari AI belum tentu datang dari adopsi massal, melainkan dari eksekusi yang tepat sasaran. Perusahaan yang berhasil biasanya adalah mereka yang berani mengubah proses bisnis inti, bukan sekadar menempelkan fitur AI pada produk yang sudah ada.

Kutipan dan Data yang Perlu Dicatat

- Torsten Slok, ekonom Apollo Global Management: "AI telah memberikan nol hasil finansial bagi korporasi Amerika di luar bidang teknologi."
- Investasi AI global diproyeksikan mencapai ratusan miliar dolar, tetapi laporan ini menunjukkan kesenjangan antara belanja dan hasil.
- Sektor teknologi sendiri masih menjadi pengecualian karena mereka adalah penyedia infrastruktur dan model AI.

Dalam konteks yang lebih luas, kritik ini bukan yang pertama. Sebelumnya, beberapa analis telah memperingatkan bahwa siklus hype AI bisa berakhir seperti gelembung dot-com jika tidak diimbangi dengan pendapatan riil. Namun, Slok tidak menyarankan perusahaan untuk berhenti berinvestasi. Ia hanya mengingatkan bahwa ekspektasi pasar terhadap AI perlu disesuaikan dengan realitas adopsi yang bertahap.

Menariknya, perdebatan soal dampak AI ini juga menyeruak di kalangan pengembang. Seperti yang pernah diulas dalam kritik Sam Altman soal bug software yang tak bisa ditambal satu per satu, pendekatan tambal sulam dalam rekayasa perangkat lunak dinilai sudah usang. Hal serupa berlaku untuk AI: tanpa perombakan proses bisnis yang mendasar, teknologi ini hanya akan menjadi lapisan kosmetik.

Bagi ekosistem startup di Indonesia, pelajaran yang bisa dipetik adalah pentingnya mengukur ROI secara jujur. Jangan sampai euforia AI justru mengalihkan fokus dari fundamental bisnis. Sebab, pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Kinerja keuangan tetap ditentukan oleh strategi, eksekusi, dan pemahaman pasar.

Modernisasi alur kerja digital berbasis automasi seperti ini terbukti memangkas inefisiensi operasional secara drastis. Jika tim kamu sedang merencanakan arsitektur automasi sistem atau custom software serupa, kamu bisa menjadwalkan sesi konsultasi dan eksplorasi teknis langsung bersama para engineer di Rizallab.

Pada akhirnya, pernyataan Slok bukanlah vonis mati bagi AI. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk lebih dewasa dalam berinvestasi teknologi. Gelombang inovasi tetap akan berlanjut, tetapi pemenangnya adalah mereka yang mampu menjembatani janji AI dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Let's TalkEkonom Apollo Sebut AI Nol Hasil Finansial bagi Perusahaan Non-Tech, Janji Produktivitas Dipertanyakan | RizalLab Insights