IHSG Ambles 3 Persen, Saham BCA Ikut Terjun 5 Persen Gara-Gara The Fed

"IHSG anjlok 3,04 persen ke 5.121,97 setelah The Fed menahan suku bunga dan inflasi PCE AS memanas. Saham BCA turun 5 persen, tekanan jual asing melanda perbankan. Simak penyebab dan dampaknya bagi pasar serta bisnis Indonesia."
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok tajam 3,04 persen ke level 5.121,97 pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Tekanan jual masif terjadi setelah The Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga tinggi dan rilis data inflasi PCE Amerika Serikat yang kembali memanas. Saham perbankan besar, termasuk BCA, ikut terhantam dengan penurunan hingga 5 persen.
The Fed dan PCE Jadi Biang Kerok
Keputusan The Fed untuk tidak melonggarkan kebijakan monyetnya tahun ini menjadi pukulan telak bagi pasar emerging, termasuk Indonesia. Data Core PCE Price Index AS yang dirilis semalam menunjukkan kenaikan 0,4 persen month-on-month, melampaui ekspektasi pasar 0,3 persen. Angka ini menegaskan inflasi di Negeri Paman Sam masih lengket, sehingga peluang penurunan suku bunga acuan (Fed Funds Rate) semakin tipis.
Dampaknya langsung terasa di pasar obligasi dan valuta asing. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun melonjak ke 4,8 persen, memicu arus modal keluar dari negara berkembang. Rupiah pun tertekan, dan investor memilih mengurangi eksposur di saham-saham berkapitalisasi besar yang sensitif terhadap suku bunga, seperti perbankan.
BCA dan Bank Besar Lainnya Terpukul
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat turun 5 persen ke level Rp8.650 pada penutupan sesi pertama. Aksi jual bersih (net sell) investor asing di saham BBCA mencapai Rp450 miliar. Tekanan serupa juga menimpa Bank Mandiri (BMRI), BNI (BBNI), dan BRI (BBRI) yang masing-masing turun di kisaran 3 hingga 4 persen.
Penurunan saham bank tidak lepas dari kekhawatiran terhadap biaya dana (cost of fund) yang berpotensi naik jika suku bunga global bertahan tinggi. Selain itu, ekspektasi pertumbuhan kredit tahun depan mulai dikoreksi seiring pelemahan daya beli masyarakat. Padahal, sektor perbankan selama ini menjadi penopang utama IHSG dengan bobot kapitalisasi terbesar.
Implikasi Jangka Panjang dan Pelajaran dari Tekanan Global
Tekanan eksternal seperti ini bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya, pasar modal Indonesia sudah beberapa kali menghadapi badai serupa, misalnya saat premi risiko RI melonjak akibat kenaikan Credit Default Swap (CDS) yang membuat biaya utang dan pendanaan makin mahal. Ketika sentimen global memburuk, investor cenderung menempatkan dana di aset safe haven, dan Indonesia termasuk negara yang paling rentan terhadap arus balik modal.
Bagi pelaku pasar dalam negeri, pelemahan IHSG kali ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada aliran dana asing masih menjadi titik lemah. Di sisi lain, pemerintah tengah berupaya memperbaiki struktur pasar melalui reformasi BUMN yang digawangi Danantara. Langkah pemangkasan 1.074 BUMN menjadi 200 entitas misalnya, diharapkan bisa meningkatkan efisiensi dan daya tarik investasi jangka panjang. Namun, upaya tersebut belum cukup untuk menahan guncangan eksternal dalam jangka pendek.
Dampak bagi Startup dan Bisnis di Indonesia
Tekanan pasar modal tidak hanya berdampak pada emiten besar. Bagi startup dan perusahaan rintisan yang sedang mencari pendanaan, kondisi ini mempersulit akses ke modal ventura maupun pinjaman bank. Ketika suku bunga acuan global tinggi, biaya pinjaman ikut naik, dan investor menjadi lebih selektif dalam menempatkan dana. Hal ini bisa memperlambat laju ekspansi bisnis digital di dalam negeri.
Selain itu, pelemahan rupiah yang menyertai aksi jual saham juga menambah beban bagi perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS. Sektor teknologi yang biasanya mengandalkan impor perangkat keras atau lisensi perangkat lunak pun harus menyesuaikan anggaran. Dalam situasi seperti ini, efisiensi operasional dan pengelolaan arus kas menjadi kunci bertahan.
Melihat ke Depan
Meski IHSG ambles, beberapa analis menilai koreksi ini bisa menjadi peluang bagi investor jangka panjang untuk mengakumulasi saham berfundamental kuat. Namun, mereka menyarankan agar tetap mencermati perkembangan data ekonomi AS dan arah kebijakan The Fed dalam beberapa bulan ke depan. Selama inflasi AS belum mereda, tekanan terhadap pasar emerging market diperkirakan masih berlanjut.
Pemerintah dan otoritas moneter diharapkan menjaga stabilitas makroekonomi, termasuk mengelola defisit fiskal dan cadangan devisa, agar kepercayaan investor tidak semakin tergerus. Di sisi lain, pelaku pasar perlu bersiap menghadapi volatilitas tinggi dan tidak mudah panik mengambil keputusan.
*Bagi kamu yang ingin mendalami bagaimana tekanan global seperti ini memengaruhi pasar modal dan ekosistem bisnis Indonesia, artikel tentang dolar AS tembus Rp18.000 bisa menjadi bacaan lanjutan yang relevan.*