Kembali ke Semua Artikel
Tech & Insights

Oura Kembali Seret Ultrahuman ke Pengadilan, Comeback Ring Pro di AS Terancam

Rizal Firdaus
Oura Kembali Seret Ultrahuman ke Pengadilan, Comeback Ring Pro di AS Terancam

"Oura kembali menggugat Ultrahuman dengan tuduhan Ring Pro melanggar dua paten. Gugatan ini mengancam rencana comeback Ultrahuman di pasar AS dan memanaskan persaingan di industri smart ring."

Perang paten di pasar cincin pintar (smart ring) memanas lagi. Oura, pemain asal Finlandia yang lebih dulu tenar lewat Oura Ring, kembali menggugat rivalnya, Ultrahuman, ke pengadilan. Dalam gugatan terbaru yang dilaporkan TechCrunch, Oura menuduh Ultrahuman Ring Pro melanggar dua paten miliknya. Langkah ini jelas bukan sekadar sengketa hukum biasa, melainkan upaya menahan laju Ultrahuman yang sedang bersiap kembali ke pasar Amerika Serikat.

Gugatan ini menjadi babak lanjutan dari perseteruan keduanya. Sebelumnya, Oura sudah pernah menyeret Ultrahuman ke meja hijau, dan kini mereka menambah amunisi dengan tuduhan pelanggaran paten atas produk teranyar Ultrahuman. Bagi Ultrahuman, Ring Pro adalah tiket untuk kembali eksis di pasar AS setelah sempat tersandung persoalan regulasi dan distribusi. Kalau gugatan ini berlanjut, rencana comeback mereka bisa berantakan.

Kenapa Ring Pro Jadi Sasaran

Oura menegaskan bahwa Ring Pro melanggar dua paten yang mereka pegang. Sayangnya, dalam laporan awal belum dijelaskan secara rinci bagian mana dari teknologi Ring Pro yang dianggap menjiplak. Namun, melihat pola gugatan sebelumnya, Oura tampaknya konsisten menjaga wilayah teknologi yang mereka klaim sebagai inovasi orisinal, mulai dari desain sensor, arsitektur baterai, sampai metode pengumpulan data biometrik.

Bukan tanpa alasan Oura begitu agresif. Pasar smart ring memang sedang tumbuh, dan Ultrahuman termasuk salah satu pesaing yang paling cepat bergerak. Ultrahuman dikenal lewat pendekatan berbeda, termasuk fitur pemantauan metabolik dan harga yang lebih kompetitif. Di sisi lain, Oura sudah lebih dulu membangun basis pengguna dan ekosistem data kesehatan yang matang. Jadi, ketika Ultrahuman hendak masuk lebih dalam ke pasar AS, Oura punya kepentingan besar untuk memperlambat langkah mereka.

Ultrahuman di Simpang Jalan

Bagi Ultrahuman, gugatan ini datang di waktu yang kurang menguntungkan. Perusahaan asal India itu sedang berupaya memperluas distribusi Ring Pro di Amerika, salah satu pasar paling gemuk untuk perangkat wearable. Gugatan paten bisa membuat mitra ritel dan distributor berpikir dua kali sebelum menggelontorkan stok. Belum lagi biaya hukum yang harus ditanggung sambil tetap menjaga operasional dan inovasi produk.

Menariknya, perseteruan ini bukan cuma soal teknologi. Ada dimensi strategi bisnis yang kental. Oura, yang sudah lebih dulu mapan, ingin mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar. Sementara Ultrahuman, sebagai penantang, butuh ruang untuk tumbuh. Di sinilah hukum paten sering dipakai sebagai alat untuk mengunci persaingan, bukan sekadar melindungi inovasi.

Pelajaran untuk Ekosistem Wearable Indonesia

Di Indonesia, pasar smart ring memang belum sebesar jam tangan pintar. Tapi bukan berarti cerita ini tidak relevan. Justru, perseteruan Oura dan Ultrahuman memberi gambaran bagaimana persaingan di sektor perangkat kesehatan bisa berubah menjadi pertarungan hukum yang mahal. Bagi startup lokal yang ingin menggarap wearable, perlindungan kekayaan intelektual sejak awal jadi hal yang tidak bisa diabaikan.

Selain itu, kasus ini juga menunjukkan bahwa distribusi dan regulasi di pasar tujuan bisa sama pentingnya dengan kualitas produk. Ultrahuman punya teknologi, tapi kalau tersandung paten dan hambatan masuk, ekspansi mereka tetap bisa tersendat. Ini pelajaran berharga bagi pelaku industri dalam negeri yang ingin menembus pasar global.

Apa yang Bisa Terjadi Selanjutnya

Gugatan ini masih akan berjalan panjang. Kalau pengadilan memihak Oura, Ultrahuman bisa dihadapkan pada larangan penjualan Ring Pro di AS, atau setidaknya kewajiban membayar royalti. Sebaliknya, jika Ultrahuman bisa membuktikan bahwa paten Oura tidak valid atau tidak dilanggar, mereka justru bisa keluar sebagai pemenang dan memperkuat posisi di pasar.

Yang jelas, persaingan di pasar smart ring tidak akan surut. Dengan semakin banyak pemain yang masuk, mulai dari Samsung sampai perusahaan rintisan lain, tekanan untuk berinovasi dan melindungi hasil inovasi akan semakin besar. Oura dan Ultrahuman hanyalah dua nama yang paling menonjol dalam pertarungan ini.

Bagi kamu yang mengikuti perkembangan industri wearable, cerita ini pengingat bahwa di balik perangkat kecil yang dipakai di jari, ada pertarungan bisnis dan hukum yang tidak kecil. Kita tunggu saja langkah Ultrahuman berikutnya, apakah mereka akan melawan balik atau mencari jalan damai di luar pengadilan.

Let's TalkOura Kembali Seret Ultrahuman ke Pengadilan, Comeback Ring Pro di AS Terancam | RizalLab Insights