Kembali ke Semua Artikel
Tech & Insights

Satlyt Kumpulkan 8 Juta Dolar untuk Bikin AI Bisa Hidup di Orbit, Tantang Dominasi SpaceX

Rizal Firdaus
Satlyt Kumpulkan 8 Juta Dolar untuk Bikin AI Bisa Hidup di Orbit, Tantang Dominasi SpaceX

"Satlyt, startup yang didirikan mantan product manager Google dan SpaceX, mengumpulkan 8 juta dolar untuk membangun sistem operasi AI terbuka bagi satelit. Visinya mirip Android di orbit, menantang pendekatan tertutup SpaceX. Ini implikasinya bagi industri dan Indonesia."

Satlyt, 'Android' untuk Komputasi Orbit, Kantongi Pendanaan 8 Juta Dolar

Bayangkan sebuah satelit yang tidak perlu mengirim seluruh data mentah ke stasiun bumi, melainkan memprosesnya langsung di orbit. Itulah visi yang diusung Satlyt, startup yang baru saja mengumpulkan pendanaan awal sebesar 8 juta dolar AS. Didirikan oleh mantan product manager Google dan SpaceX, Satlyt ingin menjadi sistem operasi terbuka bagi satelit, semacam Android yang bisa berjalan di berbagai perangkat keras, berbeda dengan pendekatan tertutup ala iPhone yang diusung SpaceX.

Pendanaan ini menjadi sinyal bahwa komputasi tepi di luar angkasa bukan lagi sekadar wacana. Satlyt menawarkan perangkat lunak yang memungkinkan satelit menjalankan model AI secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada transmisi data ke Bumi yang lambat dan mahal. Dengan kata lain, satelit bisa mengambil keputusan sendiri saat memantau kebakaran hutan, mendeteksi kapal ilegal, atau mengoptimalkan rute komunikasi.

Mengapa Komputasi Orbit Menjadi Taruhan Besar

Selama ini, satelit ibarat kamera canggih yang hanya bisa merekam, lalu mengirim semua rekaman ke pusat data di Bumi. Proses ini memakan waktu, bandwidth, dan biaya besar. Satlyt ingin membalik logika tersebut: proses dulu di orbit, kirim hanya hasilnya. Pendekatan ini mirip dengan evolusi ponsel dari fitur ke smartphone, di mana aplikasi berjalan lokal tanpa harus selalu terhubung ke server pusat.

Perusahaan ini tidak membangun satelit sendiri. Mereka fokus pada lapisan perangkat lunak yang bisa diintegrasikan ke berbagai platform satelit yang sudah ada. Strategi ini meniru model Android yang terbuka bagi banyak produsen perangkat. Sementara SpaceX dengan Starlink-nya cenderung mengembangkan ekosistem tertutup, Satlyt ingin menjadi jembatan bagi beragam operator satelit yang ingin menambahkan kecerdasan buatan tanpa harus membangun semuanya dari nol.

Pelajaran dari Model AI Kecil yang Mulai Menang di Enterprise

Menariknya, pendekatan Satlyt sejalan dengan tren yang sedang terjadi di dunia AI darat. Belakangan, model AI kecil dengan parameter jauh lebih sedikit mulai dilirik perusahaan karena lebih murah, lebih mudah diaudit, dan lebih relevan untuk domain spesifik. Fenomena ini pernah kita ulas dalam artikel model AI kecil menang di enterprise. Di orbit, keterbatasan daya dan komputasi memaksa pendekatan serupa: model harus efisien, bukan sekadar besar.

Jika model raksasa membutuhkan pusat data besar dengan pendingin dan pasokan listrik melimpah, satelit justru menuntut sebaliknya. Mereka harus beroperasi dengan energi matahari yang terbatas dan panas yang sulit dibuang. Inilah mengapa inovasi di sisi efisiensi model dan perangkat keras menjadi krusial. Satlyt tidak sendirian; beberapa pemain lain juga mulai mengembangkan chip khusus untuk komputasi orbit.

Implikasi bagi Indonesia: Peluang atau Ancaman?

Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka dua sisi mata uang. Di satu sisi, kemampuan memproses data satelit secara mandiri bisa mempercepat respons bencana, pemantauan hutan, dan pengelolaan sumber daya maritim. Bayangkan satelit yang bisa langsung mendeteksi titik api di Kalimantan tanpa harus menunggu data dikirim ke Bumi dan dianalisis manual. Itu berarti peringatan dini bisa lebih cepat beberapa jam.

Di sisi lain, ketergantungan pada teknologi asing tetap menjadi tantangan. Jika Satlyt sukses menjadi 'Android-nya satelit', ada peluang bagi pengembang lokal untuk membangun aplikasi di atas platform tersebut. Namun tanpa ekosistem riset dan industri antariksa yang matang, Indonesia berisiko hanya menjadi konsumen. Padahal, beberapa startup dalam negeri sudah mulai merintis teknologi satelit mikro dan analisis data geospasial.

Pemerintah melalui BRIN dan Kementerian Komunikasi dan Informatika sebenarnya memiliki program satelit nasional. Tetapi adopsi AI di orbit masih jauh dari agenda. Diperlukan kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan penyedia cloud dan pengembang AI, agar Indonesia tidak sekadar menonton dari pinggir lapangan.

Kompetisi Terbuka versus Tertutup di Orbit

Pertarungan antara pendekatan terbuka dan tertutup bukan hal baru di dunia teknologi. Android dan iOS membelah pasar ponsel selama lebih dari satu dekade. Di orbit, SpaceX dengan Starlink dan kemampuan komputasi terintegrasinya mungkin mengadopsi model tertutup yang sulit ditandingi. Namun Satlyt yakin bahwa operator satelit lain, terutama yang tidak ingin terikat pada satu vendor, akan memilih solusi terbuka.

Ini juga sejalan dengan semangat demokratisasi akses ruang angkasa. Jika biaya peluncuran terus turun dan perangkat lunak semakin modular, semakin banyak negara dan perusahaan bisa memiliki satelit cerdas sendiri. Satlyt ingin menjadi lapisan perangkat lunak yang memungkinkan hal itu terjadi tanpa harus membangun roket atau satelit dari awal.

Koneksi dengan Tren AI Agent dan Otomatisasi

Visi Satlyt tentang satelit yang bisa mengambil keputusan sendiri sebenarnya adalah bentuk lain dari agen AI. Jika di darat kita melihat agen AI yang bisa menyewa manusia untuk menuntaskan tugas, di orbit agen AI akan mengelola sensor dan komunikasi secara otonom. Ini membuka diskusi tentang keandalan dan keamanan: bagaimana memastikan agen di orbit tidak salah mengambil keputusan saat sinyal dari Bumi terputus?

Pertanyaan ini pernah mencuat dalam riset tentang model AI yang bisa menyembunyikan kemampuan berbahayanya. Di orbit, kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal, baik dari segi biaya maupun keselamatan misi. Karena itu, pengujian dan audit model AI untuk lingkungan ekstrem menjadi bidang yang bakal tumbuh pesat.

Bagi pelaku industri di Indonesia, khususnya yang bergerak di bidang otomatisasi dan rekayasa perangkat lunak, gelombang komputasi orbit ini bisa menjadi peluang baru. Modernisasi alur kerja digital berbasis automasi seperti ini terbukti memangkas inefisiensi operasional secara drastis. Jika tim kamu sedang merencanakan arsitektur automasi sistem atau custom software serupa, kamu bisa menjadwalkan sesi konsultasi dan eksplorasi teknis langsung bersama para engineer di Rizallab.

Masa Depan yang Semakin Dekat

Dengan pendanaan 8 juta dolar, Satlyt masih berada di tahap awal. Namun arah angin sudah terasa. Komputasi orbit bukan lagi fiksi ilmiah; ia sedang dibangun oleh orang-orang yang pernah bekerja di Google dan SpaceX. Dalam beberapa tahun ke depan, kita mungkin akan melihat satelit yang tidak hanya mengirim gambar, tetapi juga kesimpulan. Dan ketika itu terjadi, pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia akan ikut, melainkan seberapa cepat kita bisa menyesuaikan diri.

Let's Talk