Kembali ke Semua Artikel
Tech & Insights

Whistleblower Theranos Kembali Berbicara, Kali Ini Soroti Bahaya di Balik Euforia AI

Rizal Firdaus
Whistleblower Theranos Kembali Berbicara, Kali Ini Soroti Bahaya di Balik Euforia AI

"Whistleblower Theranos Tyler Shultz memperingatkan bahwa euforia AI saat ini membuka peluang besar bagi praktik penipuan, mirip dengan skandal yang ia bongkar. Ia menyoroti perusahaan AI dengan valuasi triliunan tetapi belum menghasilkan laba, serta pentingnya skeptisisme bagi investor dan pelaku industri."

Tyler Shultz, whistleblower yang membongkar skandal Theranos, kembali mengangkat suara. Kali ini bukan soal mesin darah palsu, melainkan peringatan tentang ledakan AI yang menurutnya membuka pintu lebar bagi praktik penipuan. Dalam wawancara terbaru, ia menyebut bahwa perusahaan yang belum pernah mencetak laba kini bisa mengumpulkan modal dengan valuasi setinggi triliun dolar. Fenomena ini, kata Shultz, adalah "kesempatan besar untuk pergi menipu orang."

Peringatan itu bukan tanpa dasar. Kisah Theranos menjadi pengingat pahit bagaimana sebuah perusahaan yang menjanjikan terobosan teknologi bisa menyesatkan investor, mitra, dan publik selama bertahun-tahun. Kini, dengan gelombang AI yang bergerak lebih cepat dan lebih masif, Shultz melihat pola serupa mulai muncul. Ia menyoroti bahwa banyak perusahaan AI belum menghasilkan pendapatan yang sepadan dengan valuasinya, tetapi tetap mendapat suntikan dana besar dari investor yang khawatir ketinggalan kereta.

Dari Theranos ke Era AI, Pola yang Sama

Shultz tidak asal bicara. Pengalamannya di Theranos memberinya perspektif unik tentang bagaimana narasi besar bisa menutupi realitas yang rapuh. Ia menceritakan bagaimana perusahaan tersebut dulu membangun citra sebagai inovator kesehatan dengan teknologi revolusioner, padahal produknya belum terbukti berfungsi. Dalam konteks AI saat ini, ia melihat pola serupa ketika perusahaan memamerkan demo mengesankan tetapi belum memiliki model bisnis yang jelas atau bukti skalabilitas.

"Saya pikir ada banyak orang yang akan memanfaatkan momen ini," ujar Shultz, mengutip TechCrunch. Ia menambahkan bahwa euforia AI menciptakan tekanan bagi investor untuk ikut serta, sehingga sering kali mereka mengabaikan uji tuntas yang seharusnya dilakukan.

Valuasi Triliunan, Laba Nol

Fenomena yang disorot Shultz bukan isapan jempol. Beberapa perusahaan AI memang telah mencapai valuasi luar biasa meski belum membukukan keuntungan. Contohnya, Anthropic yang tengah bersiap IPO dengan valuasi yang disebut-sebut mendekati $2 triliun, meskipun dalam dokumen S-1-nya terungkap kerugian yang membengkak. Langkah ini sempat menjadi sorotan, seperti yang pernah kami ulas dalam Anthropic Minta Wall Street Percaya pada AGI, tapi Angka di S-1 Bicara Lain.

Di sisi lain, ada juga perusahaan yang meski sudah mencetak pendapatan besar, tetap menghadapi tantangan profitabilitas. Microsoft misalnya, mencatat rekor pendapatan kuartalan $92,3 miliar, tetapi sebagian besar didorong oleh adopsi AI dan cloud yang masif. Namun, ketergantungan pada mitra seperti OpenAI juga menjadi perhatian tersendiri, seperti yang kami bahas dalam Microsoft Kantongi Rp160 Triliun dari OpenAI, Sinyal Ketergantungan yang Makin Tak Terpisahkan.

Apa yang Harus Diwaspadai?

Shultz tidak menyarankan untuk sepenuhnya menghindari AI. Ia hanya mengingatkan pentingnya skeptisisme yang sehat. Beberapa hal yang perlu dicermati oleh investor dan pelaku industri:

- Klaim teknologi yang terlalu muluk: Jika sebuah perusahaan mengklaim memiliki AI yang mampu melakukan segalanya tanpa bukti yang transparan, patut dicurigai.
- Valuasi yang tidak masuk akal: Perusahaan dengan pendapatan kecil tetapi valuasi besar perlu dipertanyakan fundamentalnya.
- Tekanan untuk cepat berinvestasi: Euforia sering kali membuat investor mengabaikan proses uji tuntas yang memadai.

Dalam konteks Indonesia, peringatan ini relevan. Ekosistem startup AI di Tanah Air sedang tumbuh, dan godaan untuk mengejar valuasi tinggi bisa mengaburkan prinsip kehati-hatian. Beberapa startup mungkin tergoda untuk membesar-besarkan kemampuan teknologi mereka demi menarik investor. Padahal, tanpa fondasi yang kuat, risiko kegagalan atau bahkan skandal bisa menghantui.

Pelajaran dari Theranos untuk Startup Indonesia

Kasus Theranos mengajarkan bahwa reputasi dan kepercayaan adalah aset yang mahal. Sekali rusak, sulit dipulihkan. Bagi startup AI Indonesia, membangun kredibilitas dengan pencapaian nyata jauh lebih berharga daripada sekadar narasi bombastis. Investor pun perlu lebih jeli melihat substansi, bukan hanya janji manis di presentasi.

Shultz sendiri mengaku tidak menyesali keputusannya membongkar kebohongan Theranos, meski harus menghadapi tekanan besar. Ia berharap peringatannya kali ini bisa mencegah terulangnya sejarah serupa di industri AI. "Saya tidak ingin melihat orang lain mengalami apa yang saya alami," ungkapnya.

Dengan pertumbuhan AI yang kian pesat, kewaspadaan menjadi kunci. Teknologi ini memang menjanjikan banyak hal, tetapi tanpa integritas dan transparansi, ia bisa menjadi alat penipuan yang canggih. Seperti kata Shultz, "AI adalah alat yang ampuh, tetapi juga bisa disalahgunakan."

Bagi para pelaku bisnis yang ingin mengadopsi AI secara sehat, penting untuk memulai dengan pemahaman yang jelas tentang tujuan dan batasan teknologi. Jika kamu sedang merancang arsitektur automasi atau sistem cerdas untuk bisnis, diskusi dengan para ahli bisa membantu menghindari jebakan serupa. Kamu bisa menjadwalkan sesi konsultasi dan eksplorasi teknis langsung bersama engineer di Rizallab.

Pada akhirnya, kisah Theranos dan peringatan Shultz adalah cermin bagi kita semua. Di tengah gemerlapnya AI, ada baiknya sesekali berhenti dan bertanya: apakah yang kita kejar ini benar-benar nyata, atau hanya fatamorgana?

Let's Talk