Kembali ke Semua Artikel
Tech & Insights

Vessev Bikin Feri Listrik yang Hampir Terbang, Siap Ubah Cara Kota Melihat Transportasi Air

Rizal Firdaus
Vessev Bikin Feri Listrik yang Hampir Terbang, Siap Ubah Cara Kota Melihat Transportasi Air

"Vessev mengembangkan feri listrik hydrofoil yang hampir terbang di atas air, menjanjikan efisiensi energi hingga 90% lebih baik dari kapal diesel. Teknologi ini berpotensi mengubah transportasi air di kota pesisir, termasuk Indonesia."

Bayangkan sebuah feri yang melaju di atas air, tapi badannya terangkat hampir sepenuhnya dari permukaan. Bukan karena efek sinematik, melainkan karena teknologi hydrofoil yang membuat kapal ini melayang di atas ombak. Itulah yang sedang dikerjakan Vessev, sebuah perusahaan yang berambisi mengubah cara orang dan kota memandang transportasi air. Feri listrik berbasis hydrofoil ini diklaim mampu memangkas konsumsi energi secara drastis sekaligus memberi pengalaman berkendara yang jauh lebih mulus dibanding kapal konvensional.

Apa Itu Hydrofoil dan Kenapa Ini Penting?

Hydrofoil sebenarnya bukan teknologi baru. Prinsipnya sederhana: sayap kecil di bawah lambung kapal akan mengangkat badan kapal keluar dari air begitu kecepatan tertentu tercapai. Dengan begitu, hambatan air yang biasanya menggerogoti efisiensi bisa ditekan seminimal mungkin. Vessev mengombinasikan prinsip ini dengan penggerak listrik, menciptakan feri yang tidak hanya senyap tetapi juga jauh lebih hemat energi.

Menurut Vessev, feri mereka dapat mengurangi konsumsi energi hingga 90% dibanding kapal diesel konvensional pada kecepatan jelajah. Angka ini bukan sekadar klaim pemasaran. Dalam uji coba awal, prototipe mereka berhasil melaju stabil di atas air dengan getaran dan kebisingan yang sangat rendah. Penumpang bahkan bisa menikmati perjalanan tanpa harus berteriak atau merasakan guncangan ombak seperti naik kapal feri biasa.

Dampak Nyata bagi Kota Pesisir dan Operator Transportasi

Bagi kota-kota pesisir yang selama ini mengandalkan feri diesel, kehadiran Vessev bisa menjadi titik balik. Biaya operasional yang lebih rendah berarti tarif bisa ditekan, sementara emisi karbon yang jauh lebih kecil membantu pemerintah daerah memenuhi target iklim. Operator feri juga diuntungkan karena perawatan mesin listrik cenderung lebih sederhana dan murah dibanding mesin diesel yang penuh komponen bergerak.

Namun, ada tantangan yang tidak bisa diabaikan. Infrastruktur pengisian daya di dermaga masih menjadi pekerjaan rumah besar. Vessev mengakui bahwa mereka perlu bermitra dengan penyedia energi dan otoritas pelabuhan untuk membangun stasiun pengisian cepat. Tanpa itu, feri listrik hanya akan menjadi prototipe cantik yang terparkir di galangan.

Pelajaran untuk Indonesia dan Startup Maritim Lokal

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau sebenarnya punya kebutuhan mendesak akan transportasi air yang efisien dan ramah lingkungan. Bayangkan feri listrik hydrofoil melayani rute antar pulau di Kepulauan Seribu atau menyeberang Selat Sunda. Waktu tempuh bisa lebih singkat, biaya bahan bakar turun, dan polusi suara di kawasan wisata bahari berkurang drastis.

Tentu saja, adopsi di Indonesia tidak akan instan. Regulasi keselamatan pelayaran, kesiapan galangan kapal lokal, dan ketersediaan listrik di dermaga terpencil menjadi PR bersama. Meski begitu, langkah Vessev ini bisa memicu gelombang inovasi bagi startup maritim dalam negeri. Pemerintah dan investor bisa mulai melirik teknologi hydrofoil listrik sebagai bagian dari transisi energi di sektor transportasi laut.

Kutipan dan Visi ke Depan

Dalam pernyataannya, Vessev menegaskan bahwa tujuan mereka bukan sekadar membuat kapal cepat, melainkan mengubah cara orang berpikir tentang transportasi air. "Kami ingin feri listrik ini menjadi katalis perubahan, seperti yang dilakukan Tesla untuk mobil listrik," ujar perwakilan perusahaan. Pernyataan ini sejalan dengan tren global yang semakin menuntut solusi transportasi bebas emisi.

Ke depan, Vessev berencana memperluas jangkauan feri mereka ke berbagai kota di Eropa dan Amerika Utara. Jika berhasil, bukan tidak mungkin dalam 5-10 tahun ke depan, pemandangan feri diesel yang berasap dan berisik perlahan tergantikan oleh armada listrik yang meluncur hampir tanpa suara. (*Kalau kamu penasaran bagaimana teknologi lain mencoba mengubah paradigma transportasi, sempat kita bahas di aplikasi Laytr yang serba bisa*).

Penutup

Melihat feri listrik Vessev, kita diingatkan bahwa inovasi sering datang dari sudut yang tidak terduga. Bukan dari raksasa otomotif, tapi dari perusahaan kecil yang berani menantang cara lama. Bagi Indonesia, ini bisa jadi pemicu untuk mulai serius menggarap transportasi laut ramah lingkungan. Siapa tahu, suatu hari nanti kita bisa naik feri listrik yang melayang di atas air, menikmati perjalanan antar pulau tanpa bising dan tanpa polusi.

Let's Talk