Back to All Insights
Tech & Insights

Startup Body Scan Milik Miliarder Spotify Kini Masuk Amerika, Bisakah Ubah Cara Kita Deteksi Penyakit?

Rizal Firdaus
Startup Body Scan Milik Miliarder Spotify Kini Masuk Amerika, Bisakah Ubah Cara Kita Deteksi Penyakit?

"Neko Health, startup pemindaian tubuh milik miliarder Spotify Daniel Ek, resmi masuk Amerika Serikat. Teknologi ini diklaim mampu mendeteksi penyakit lebih awal dalam 15 menit tanpa rasa sakit. Bagaimana dampaknya bagi Indonesia?"

Satu Pemindaian Tubuh 15 Menit, Bisakah Deteksi Penyakit Lebih Awal?

Neko Health, startup pemindaian tubuh yang didirikan oleh miliarder Spotify Daniel Ek dan Hjalmar Nilsonne, resmi membuka operasinya di Amerika Serikat. Kabar ini pertama kali diungkap oleh Farooq Abbasi, investor Neko Health, dalam wawancara dengan Equity. Langkah ekspansi ke AS ini menandai babak baru bagi layanan kesehatan preventif berbasis teknologi yang menggabungkan sensor medis, kecerdasan buatan, dan pemindaian non-invasif.

Bagi Anda yang belum familiar, Neko Health menawarkan pemindaian tubuh menyeluruh yang diklaim dapat mendeteksi tanda-tanda awal penyakit, mulai dari masalah jantung, metabolisme, hingga risiko stroke, hanya dalam waktu sekitar 15 menit. Prosesnya tanpa jarum, tanpa radiasi, dan tanpa rasa sakit. Hasilnya kemudian dianalisis oleh AI dan ditinjau oleh dokter, lalu dikirim ke pengguna melalui aplikasi.

Dari Stockholm ke Amerika: Strategi Ekspansi yang Tak Main-main

Neko Health pertama kali diluncurkan di Stockholm, Swedia, pada 2023. Sejak saat itu, perusahaan telah menarik perhatian besar dari investor dan publik karena pendekatannya yang berbeda dari layanan kesehatan konvensional. Alih-alih menunggu pasien sakit, Neko Health menawarkan pemindaian rutin untuk orang sehat yang ingin memantau kondisi tubuhnya secara proaktif.

Menurut Abbasi, ekspansi ke Amerika Serikat adalah langkah logis mengingat besarnya pasar kesehatan preventif di sana. "Kami melihat antusiasme yang luar biasa di Eropa, dan sekarang saatnya membawa teknologi ini ke AS," ujarnya. Ia menambahkan bahwa Neko Health telah menjalin kemitraan dengan beberapa penyedia layanan kesehatan lokal untuk mempercepat adopsi.

Bagaimana Teknologinya Bekerja?

Neko Health menggunakan kombinasi sensor canggih, termasuk pemindaian 3D, pengukuran detak jantung, tekanan darah, dan analisis komposisi tubuh. Data yang terkumpul kemudian diproses oleh algoritma machine learning yang dilatih untuk mengenali pola-pola abnormal. Hasilnya bukan diagnosis medis, melainkan indikasi awal yang bisa menjadi peringatan dini bagi pengguna untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis.

Menariknya, pendekatan ini sejalan dengan tren kesehatan digital yang semakin mengandalkan data untuk pengambilan keputusan. Di Indonesia sendiri, kesadaran akan pentingnya deteksi dini penyakit semakin meningkat, terutama setelah pandemi. Namun, layanan seperti Neko Health masih tergolong mahal dan belum terjangkau oleh masyarakat luas. Harga satu kali pemindaian di Eropa berkisar €250–€300, atau sekitar Rp4–5 juta.

Dampak bagi Ekosistem Kesehatan Indonesia

Meski Neko Health belum masuk ke Indonesia, kehadirannya di AS bisa menjadi sinyal bagi startup kesehatan lokal untuk mengembangkan layanan serupa. Beberapa startup Indonesia seperti Halodoc, Alodokter, dan KlikDokter telah menawarkan konsultasi online dan pengiriman obat, tetapi belum ada yang menyentuh pemindaian tubuh berbasis AI secara langsung.

Peluang ini bisa menjadi celah bagi investor dan pengusaha di Indonesia untuk mengadopsi teknologi serupa dengan harga yang lebih terjangkau. Misalnya, dengan menggandeng rumah sakit dan klinik untuk menyediakan layanan pemindaian preventif yang terjangkau. Selain itu, regulasi kesehatan di Indonesia perlu disesuaikan agar inovasi semacam ini bisa masuk tanpa mengorbankan keselamatan pasien.

Tantangan dan Prospek ke Depan

Tidak semua pihak menyambut baik kehadiran Neko Health. Beberapa kritikus mengkhawatirkan potensi overdiagnosis, di mana pengguna menjadi cemas berlebihan karena temuan yang sebenarnya tidak berbahaya. Ada pula kekhawatiran soal privasi data, mengingat pemindaian tubuh menghasilkan data kesehatan yang sangat sensitif.

Namun, Abbasi menegaskan bahwa Neko Health memiliki protokol keamanan berlapis dan tidak menyimpan data pengguna tanpa izin. "Kami sangat serius dalam menjaga privasi. Data hanya digunakan untuk keperluan analisis dan tidak dibagikan ke pihak ketiga tanpa persetujuan," tegasnya.

Ke depan, Neko Health berencana memperluas jangkauan ke lebih banyak negara, termasuk di Asia. Jika berhasil, bukan tidak mungkin layanan seperti ini akan menjadi standar baru dalam dunia kesehatan preventif. Bagi Indonesia, ini bisa menjadi peluang sekaligus tantangan untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pengembang teknologi kesehatan.

*(Kalau kamu tertarik dengan bagaimana teknologi AI semakin masuk ke ranah sensitif, sempat kita ulas soal boneka uji tabrak untuk keamanan psikologis AI yang juga menimbulkan pertanyaan etis).*

Sementara itu, di belahan dunia lain, perkembangan AI terus memicu diskusi tentang batas antara manusia dan mesin, seperti yang disindir oleh Paus Leo XIV soal seni buatan AI. Neko Health mungkin bukan AI yang menciptakan karya, tetapi ia menunjukkan bagaimana AI bisa menjadi alat bantu yang sangat personal bagi kesehatan kita.

Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan hanya soal teknologi, melainkan tentang akses. Apakah inovasi seperti Neko Health akan menjadi privilege segelintir orang kaya, atau bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat? Jawabannya akan sangat bergantung pada bagaimana kita sebagai masyarakat dan pembuat kebijakan menyikapinya.

Let's Talk